PESANTREN MULTIMEDIA : Retrospeksi santri modern ala Blogger
22 Aug 2010 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: blogger, subang
PERGULATAN PIKIRAN
Tak ubahnya anomali musim yang melanda berbagai belahan dunia, begitu pula dalam semangat Ramadhan, berbagai jenis kegiatan telah demikian variatif. Mulai dari pesantren kilat di sekolah-sekolah, pesantren ngobong di berbagai pesantren salafiah, dan terakhir muncul Pesantren Multimedia. Mungkin ini khusus dan pertama kali diadakan di Kabupaten Subang. Pengelolanya bukan kelompok sembarangan, Komunitas Blogger Subang, yang didalamnya dimotori oleh alumni pesantren bahkan menyandang juga predikat ustadz.
Cukup lama saya coba memahami relevansi Pesantren Multimedia ini. Sengaja saya tidak mencari tahu materi yang akan diberikan dalam Pesantren Multimedia tersebut. Untuk memperoleh sedikit gambaran tentang Pesantren Multimedia sengaja saya datang sekedar melihat tahap persiapannya. Obrolan yang meloncat-loncat dengan para aktivis Blogger Subang tidak terlalu banyak membantu apa sebenarnya relevansi diselenggarakannya kegiatan tersebut dengan bulan Ramadhan.
Meski sampai malam ini saya tidak juga memperoleh cukup dasar pemikirannya, namun toh tetap harus diungkapkan karena bagaimanapun juga besok Pesantren multimedia ini akan dimulai. Mudah-mudahan perspektif saya tidak terlalu melenceng jauh dan Insya Allah didasari oleh prinsip hushnudzon.
BACAAN YANG MENYIRATKAN RELEVANSI
Tidak dapat dipungkiri saat ini Multimedia identik dengan Internet berikut segala aplikasinya, meski sebenarnya pengertian multimedia lebih dari itu. Mengingat bahwa penyelenggara pesantren multimedia ini adalah komunitas blogger, maka dipastikan materi tentang tulis menulis gagasan dan materi tentang nge-blog akan menjadi dominan. Disini saya mencoba mendekati perspektif relevansi Pesantren multimedia.
Supaya seseorang dapat menulis maka terlebih dahulu dia faham dan memiliki cukup pengetahuan tentang apa yang ditulisnya, sesederhana apapun itu. Apalagi tulisannya akan dipublish melalui blog, sudah pasti jutaan orang akan men-judge kebenaran tulisannya.
Untuk memperoleh pengetahuian itu tidaklah cukup dengan hanya diperoleh secara lisan dari seseorang, tapi harus lebih dari itu. Tidak ada jalan lain selain membaca berbagai literatur yang valid, berdikusi dengan orang-orang arif, bahkan memungutnya dari orang marginal di jalanan. Itu semua hanya bisa dilakukan dengan jiwa yang terbuka dan siap menerima pencerahan.
Tidak mudah memang, dia dituntut mengendalikan hawa nafsu, karena inilah yang bisa membutakan dan menggelapkan alam fikir. Jika tidak demikian maka alih-alih memperoleh pencerahan, malah kesesatan berfikirlah yang didapatkan.
Semangat menggali kebenaran dan lalu menyampaikan kebenaran inilah yang akhirnya saya asumsikan sebagai dasar penyelenggaran Pesantren multimedia yang relevan dengan semangat Bulan Ramadhan. Bukankah Internet saat ini merupakan ruang yang sangat luas untuk mencari dan menggali pengetahuan ? jika ruang ini dimanfaatkan dengan benar dan dikaji dengan benar pula bersama orang-orang yang arif, maka keluasan wawasan dan pengetahuan seseorang adalah suatu keniscayaan.
Jika sudah demikian maka kebenaran akan nampak dipelupuk matanya. Dalam pada itu saya teringat satu frase dalam Intisari Ihya’ Ulumuddin “Mensucikan Jiwa” Al-Ghazali (halaman 19). “Oleh sebab itu Ali ra berkata : Janganlah kamu mengenali kebenaran melalui orang tetapi kenalilah kebenaran pasti kamu akan mengetahui orangnya”.
MUARA PEMAHAMAN
Harapan terhadap output Pesantren Multimedia tidaklah perlu berlebihan, namun cukuplah Pesantren Multimedia melahirkan blogger Islami yang mampu mengenali kebenaran hakiki dikehidupan sosialnya masing-masing sesederhana apapun itu untuk kemudian diartikulasikan dalam blognya masing-masing.
Hal ini Insya Allah telah pula menjadi dasar pemikiran penyelenggara Pesantren multimedia. Bagaimanapun juga ber-internet dan ngeblog merupakan keasyikan tersendiri, sekaligus sangat dekat dengan fitnah ataupun penyakit hati lainnya. Setidaknya ada pengendali dan penyeimbang yang ditanamkan dalam kegiatan ini kepada para blogger pemula. Bukan sekedar asyik, tapi bermanfaat minimal bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Bukankah berubah dari Al-Assyik ke arah Al-Ghazali lebih baik dari pada berubah dari Al-Ghazali ke Al-Assyik apalagi Al-Assoy ? Wallahualam.
Untuk Kawan di Komunitas Blogger Subang : Selamat berproses, semoga sukses !!! Amiien.




Interupsi