STOP Friendship Kebablasan !!!

Prestasi kerja sangat dipengaruhi oleh perspektif seorang karyawan atas dirinya ketika berada dilingkungan tempat kerja. Banyak orang salah arti tentang friendship atau keakraban diantara rekan kerja. Karena itu pula tanpa disadari prestasi kerja seseorang sebenarnya sangat ditentukan oleh kemampuan pengendalian dirinya ketika berinteraksi dengan rekan kerja. Friendship yang kebablasan cenderung mengkooptasi efektivitas kinerja seseorang, karena menyebabkan timbulnya sikap permisif atas keharusan-keharusan dan wewenang seorang sesuai tugasnya. Pernyataan dibawah ini umum terjadi pada kondisi friendship kebablasan.

“ah, masa saya harus tega mencoret pengajuan proposalnya. gimana-gimana juga dia kan temen hunting kalo ke pub?”
“okelah kalo secara jabatan ga bisa dibantu, sebagai temanlah, bantu saya”
“duuh, gimana ngomongnya ama dia, kebayang kalo saya ga ngedukungnya. pasti dia marah besar”

Banyak ragam frase biasa berkecamuk ketika seseorang harus mengambil keputusan. Terutama jika keputusan itu berkaitan langsung dengan rekan kerja yang akrab dengannya. Dari sinilah mulai muncul dua kemungkinan, pertama, ketika seseorang bersikap tegas dia akan dianggap sama sekali tidak menghargai pertemanan yang terjalin, atau kedua, ketika dia menurutkan kata hatinya maka dimulailah kelonggaran, sikap permisif bahkan penyelewengan kongkalikong. Banyak pertengkaran bahkan masalah hukum (penyelewengan) sebenarnya diawali karena rasa ewuh pakewuh, perasaan ga enak pada atasan, atau bahkan teman.

Jika kita berada pada posisi tersebut, sebaiknya kita tunda dulu pengambilan keputusan (kecuali kalo dah biasa), kemudian renungkan kembali dan tanya pada diri sendiri .

“Apa tujuan saya ketika pertama kali melamar/bekerja dikantor ini ? Bekerjakah? atau Bertemankah?”
“Kenapa saya harus khawatir dia marah dan menjauhi saya ? toh awalnya juga saya tidak kenal dengan dia?”
“Jika terjadi masalah dengan tugas saya, bisakah teman saya itu menanggung juga akibat keputusan saya?”
“Apakah bukan tidak mungkin motivasi dia dekat dengan saya selama ini semata-mata agar bisa mempengaruhi keputusan saya menyangkut kepentingannya?”

Berteman di kantor memang indah dan menyenangkan, tapi jika kemudian pertemanan itu menghambat kita melaksanakan tugas maka sebaiknya kembali kepada jobdesk dan motivasi awal ketika melamar pekerjaan yang sering dilupakan. Bukankah cuma kita yang bisa menyelamatkan dapur kita tetap ngebul, bukan orang lain !

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.